hanya sebuah pulau kecil yang bahkan di peta Indonesia pun tak tampak
tapi apa yang mampu membuatnya begitu tersohor??
berjuta mimpi serasa mampu membuat siapapun ingin mencoba menjajalnya
Batam..
sebuah pulau kecil yang mempunyai luas tak kurang dari 415 Km2
pulau yang merupakan hasil pertukaran antara Pemerintah Belanda dan Inggris pada abad ke 18 yang dianggap sebagai “Kembaran” Singapura
mempunyai nama yang sangat terkenal se-antero Indonesia
disamping letak geografis yang strategis antara 2 negara
Batam pun memiliki banyak kelebihan yang tak ditemukan di kota-kota lain di Indonesia
Mengulik sejarah perjalanan para pendatang ke Batam
mereka memimpikan sebuah kehidupan yang lebih baik di pulau ini
terdengar kata-kata manis dari rekan sejawat yang mengatakan betapa indah hidup disini
terdapat banyak lapangan pekerjaan yang menawarkan berbagai posisi
uang..ya tentu saja itu yang mungkin terbesit pertama kali dibenak mereka
dengan modal dengkul merekapun bersiap menjemput masa depan yang lebih baik
siang pun tiba, seiring dengan ketibaan mereka di Batam
dengan sigap para penjemput menunggu mereka di pintu-pintu kedatangan
meskipun para orang berseragam menghampiri mereka namun itu tak mengurangi akal mereka untuk terus maju
dan senyum bahagia menghampiri ketika akhirnya berhasil menghirup udara Batam yang berbau asin laut
tak pula berbeda dengan mereka yang datang dengan penerbangan
meskipun begitu mereka tak serumit menghadapi para orang berseragam
yang mungkin menurut mereka pasti berkecukupan
Hari berganti mereka pun memulai perjalan panjang
menapakkan kaki langkah demi langkah menuju sebuah bangunan nan besar dengan embel-embel tulisan “PT”
dengan berpeluh keringat dan semangat menghampiri sebuah kaca yang bertuliskan penjagaan
tapi malang.. belum beruntung kali ini
terik matahari masih terus menemani dan kaki pun masih bersemangat menapak
mencoba kembali peruntungan dan kembali jawaban yang sama didapat
coba..coba..dan terus mencoba
hingga akhhirnya amplop lusuh ditangan itupun berpindah tangan
hati senang bukan kepalang
kini hanya waktu yang akan menjawab
dan tuhan mendengar doa itu
tak selang berlangsung hari, ia pun kembali menuju tempat itu
serangkaian tata acara diikuti, satu persatu dengan semangat dijajal sebaik mungkin
dan yah..Anda kami terima bekerja disini!
Datang dengan berpakaian hitam-putih dan tepat waktu
berusaha tampil sebaik mungkin dan ini hari pertama
waktu berganti hingga saat menerima pembayaran atas kerja keras sebulan ini
hanya Rp 1.075.000 dan beberapa tambahan rupiah yang terkumpul
dan itu hanya cukup untuk kelangsungan hidup sebulan!
tapi ia cukup beruntung
jejak kan kaki melangkah ke pusat kota
Nagoya..
berjejer deretan toko yang menjual berbagai keperluan
bahkan menjadi surga belanja bagi wisatawan lokal maupun asing
dengan mudah memilih barang-barang bermerk
yang tanpa disadari apalah arti uang sejumlah satu juta rupiah itu
diselipan toko-toko yang menerangi malam
ditemukan sebuah pintu..hanya sebuah pintu yang menghiasi halaman depan nya
dengan lampu remang-remang bahkan bisa dikatakan nyaris gelap
bediri sebuah papan nama “BAR”
ah..itu tempat yang dituju
segala nilai negatif terpampang jelas didalamnya
karena di Batam itu merupakan tempat “hiburan” yang berbeda
bisa Anda temukan berbagai jenis suku bangsa di dalamnya
dan perempuan!!
dia datang ke Batam juga mempunyai mimpi indah untuk merubah nasibnya dan keluarga
alasan ekonomi keluarga
namun ia pun menyadari bahwa ia diberkahi tubuh molek
dan bencana di mulai dari situ.
Iming-iming gaji besar dan akan dipekerjakan di pabrik ternyata hanya muslihat
mimpi indah itupun menjadi mimpi buruk ketika kaki mulai menapak tanah Batam
perangkap penipuan berkedok pekerja rumah makan pun tertawa riang
ketika rupiah menghampiri kantong mereka, dan ia terperosok di lembah prostitusi
Tangan menggengam sebuah kertas dengan tulisan “Ijazah Sarjana”
dengan langkah pasti mengayun tegas
hampir dikatakan ia pasti beruntung
tapi tenyata tak seperti yang ia bayangkan dengan kertas itu ditangannya
sulit…mungkin kata yang tepat
hanya bahasa ibu dan tanpa keahlian, buang saja jauh-jauh mimpi indah itu
dan akhirnya juga mendarat pada suatu pekerjaan yang jauh dari apa yang diinginkan
Dan hujan mulai menghampiri beberapa hari terakhir
disebuah gang yang becek dan papan triplek menghiasi sudut-sudutnya
pintu setengah terbuka, tampak beberapa ember menampung tetesan air hujan
drum-drum menampung berkah langit itu
itulah potret keseharian mereka di Batam ini
namun di sudut sana berdiri dengan kokoh rumah-rumah yang berjejer rapi
jalan beraspal dan perpenjaga lengkap
tanpa perlu takut ketika petir menyambar
dan tak ada terdengeran nyanyian air hujan
entah..
mengapa Batam masih saja menjanjikan sejuta mimpi indah??
mereka hanya datang dengan modal nekad tanpa apapun dimiliki
sedangkan kesenjangan semakin tampak mengerucut
Batam itu keras
hanya bisa dilewati bagi yang kuat
namun..
Batam itu lembut
hanya untuk yang memiliki apa yang Batam perlukan